Sabtu, 16 Juli 2011

30. ‘IDUL ADHA 1429



الله اكبر الله اكبر الله اكبر لااله الاّالله والله اكبر الله اكبر ولله الحمد. الله اكبر كبيراوالحمدلله كثيراوسبحا ن الله بكرة واصيلا لا اله الاّالله وحده صدق وعده ونصرعبده واعزّجنده وهزم الاحزاب وحده. لااله الاّالله ولانعبد الاّايّاه مخلصين له الدّين ولوكره الكا فرون. اشهدان لااله الاّالله واشهدانّ محمّدا عبده ورسوله.اللهمّ صلّ على سيّدنا محمّدوّعلى اله واصحا به.فيا ايّها المسلمون اتّقواالله اعوذبالله من الشّيطان  الرّجيم. انّا أعطينك الكوثر. فصلّ لربّك وانحر. انّ شا نئك هوالأبتر
‘Idul Adha artinya sama dengan ‘Idul Qurban, yaitu hari yang dirayakan dengan penyembelihan hewan qurban. Qurban berasal dari bahasa Arab, yang artinya benar-benar dekat, maksudnya dengan menyembelih hewan itu, orang yang berkurban akan dekat dengan sesama manusia dan dekat pula dengan Allah Swt. Mengapa? Orang yang berqurban insya Allah akan disukai oleh orang yang menerima bagian daging qurban. Dan jika berkurban itu Lillahita’ala, pasti Allah mencintainya sebab orang itu telah menaati perintah Allah.

Hikmah ibadah qurban itu secara sosiologis jelas sekali yaitu untuk menyejahterakan masyarakat, terutama fakir miskin yang jarang mendapat makanan bergizi sebab mahal, tidak terjangkau.

Menyuburkan sifat dermawan; mengobati penyakit kikir. Betapa baiknya sifat dermawan dan betapa buruknya sifat kikir, dikemukakan dalam Al-Quran sbb.
مَثَلُ الّذينَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِى سَبِيْلِ اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِى كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللهُ يُضَعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ (2:261)
Perumpamaan infak yang dikeluarkan oleh orang yang menggunakan hartanya di jalan Allah adalah seperti sebutir benih yang menumbuhkan tujuh butir, sedangkan pada tiap butir itu tumbuh pula seratus biji. Allah melipatgandakan ganjaran bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah mahaluas serta maha mengetahui.(Al-Baqarah:261)
اِنْ تُبْدُوُ االصَّدَقَاتِ فَنِعِمَّاهِيَ وَاِنْ تُخْفُوْهَاوَتُؤْتُوْهَاالفُقَرَاءَ فَهُوَخَيْرٌ لَكُمْ وَيُكَفِّرُعَنْكُمْ سَيِّاَتِكُمْ (2:271)
Jika kamu memperlihatkan sedekahmu, itu baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya waktu kamu memberikannya kepada orang-orang fakir, itu baik juga. Dengan sedekah itu, Allah akan menghapus sebagian kesalahanmu.
اِنَّ الّذِيْنَ يَتْلُوْنَ كِتَابَ اللهِ وَاَقَامُوْا الصّلوَةَ وَاَنْفَقُوْامِمّاَ رَزَقْنَاهُمْ سِرّاًوَعَلاَنِيَةً يَرْجُوْنَ تِجَارَةً لَنْ تَبُوْرَ (35:29)
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan salat dan menginfakkan sebagian rizkinya, baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan, mereka itu adalah orang-orang yang mengharapkan niaga tanpa rugi.
اَلَّذِيْنَ يَبْخَلُوْنَ وَيأَمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُوْنَ مَااَتَهُمُ اللهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاْعتَدْنَا لِلْكَافِرِيْنَ عَذَاباً مُهِيْناً (4:37)
Orang yang kikir atau pelit dan menyuruh orang lain kikir, dan menyembunyikan rizki dari Allah yang diberikan kepada mereka, maka Kami sediakan untuk mereka azab yang menghinakan.

Menggugah rasa syukur atas nikmat Allah bagi orang yang berada. Renungkanlah dari mana datangnya rizki itu! Karena usaha sendiri? Siapa yang memberi kekuatan, kepandaian untuk berusaha ? Allah berfirman Lainsyakartum …………………
ٍ ماَ عَمِلَ ابْنُ أَدَمَ يَوْمَ النَحْرِعَمَلاً أَحَبَّ  اِلىَ الله مِنْ هِرَاقَةِدَم
Tidak ada amalan anak Adam yang paling disukai Allah pada Hari Raya Qurban selain dari menyembelih hewan qurban. (Riwayat Turmudzi dan Ibnu Maah)
بِكُلِّ شَعْرَةٍ مِنَ الصَّوْفِ حَسَنَةً
Pada setiap helai bulunya terdapat kebajikan.(Riwayat Turmudzi dan Ibnu Majah)
مَنْ وَجَدَ سَعَةً ِلأَنْ يُضَحِى َفلَمْ يُضَحِ فَلاَ يَقْرُبَنَّ مُصَلاَّناَ (رواه أحمدوابن ماجه)
Sabda Rasulullah Saw. Siapa yang telah mampu untuk berkurban, tetapi tidak mau melakukannya, maka janganlah dia dekat-dekat dengan musolaku.

Menyembelih hewan qurban itu hendaknya bermaksud pula menyembelih sifat hewani: serakah, egois, tidak tahu malu, tidak tahu benar salah, dan pemberang. Tidak sedikit orang yg demikian.
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالإنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ
Sesungguhnya kami jadikan isi neraka Jahannam itu kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat Allah) dan mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat tanda kekuasaan Allah, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakan untuk mendengar ayat Allah. mereka itu seperti hewan, bahkan  lebih sesat lagi. (7: 179)

Bagaimana bagi yang belum mampu berkurban? Allah tidak membebani seseorang di luar kemampuannya. Sebenarnya, siapapun bisa saja berkurban sesuai dengan kemampuan masing2. Tidak mampu berkurban dengan harta/hewan, silakan berkurban dengan tenaga, dengan pikiran atau jasa apa saja yang bermanfaat bagi kemanusiaan (amal saleh). Allah berfirman,
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Siapa yang mengerjakan amal saleh, baik pria maupun wanita dalam keadaan beriman, maka sungguh akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sungguh akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.(Nahal, 16: 97)

Ibadah Qurban sebenarnya napak tilas pengorbanan  Nabi Ibrahim As beserta keluarganya. Sebab itu, siapa yang mengharapkan kehidupannya mendapat berkah dari ibadah qurban itu contohlah kehidupan Ibrahim AS beserta keluarganya. Bagi seorang ayah, suami, atau seorang generasi tua contohlah Nabi Ibrahim, bagi seorang ibu atau istri, contohlah Siti Hajar, bagi seorang muda contohlah Ismail AS.

Ibrahim AS, demi mewujudkan keyakinan bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah, dia telah rela mengorbankan segalanya. Dia rela meninggalkan negerinya (Babilonia, Irak); dia mengembara ke Suriah, Palestina, Mesir, dan sampai di Mekah almukaromah. Bahkan dia rela mengorbankan dirinya masuk ke dalam kobaran api yang dibuat oleh rajanya yang zhalim (Namrudz), namun Allah melindunginya dengan berfirman, ya narukuni bardan wasalaaman 'ala ibrahim……. Belum cukup ujian Allah hingga sampai pada puncak pengorbanannya yaitu perintah untuk menyembelih anaknya sendiri (Ismail a.s.) yang dalam kenyataannya digantikan oleh Allah Swt dengan seekor domba.

Demikian hebat imannya, takwanya, jihadnya, dan jujurnya Ibrahim a.s. sehingga anak dan istrinya senantiasa takzim kepadaanya. Siti Hajar sebagai seorang istri dan seorang ibu meskipun dia ditinggal suaminya itu di tengah padang pasir tanpa sumber makanan dan  minuman, Siti Hajar dengan ikhlas merelakannya pergi sebab Siti Hajar yakin tidak  mungkin suaminya itu berbohong untuk memenuhi hawa nafsunya.Begitu pula kecintaannya pada anaknya tidak pernah berkurang meskipun dia harus menderita di tengah padang pasir yang sangat ganas. Suaminya yang meninggalkannya demi tugas suci tidak pernah dikhianatinya. Tidak terpikir oleh Siti Hajar sedikit pun untuk berbuat serong di tengah godaan keperluan hidup yang sangat berat. Justru di saat memikul beban kehidupan yang amat berat itu, bertambahlah ketakwaan dan ketawakalannya kepada Allah Swt. Doa demi doa dikeluhkannya ke Hadirat Ilahi. Dan di kala bayinya yang masih merah itu meronta-ronta kehausan luar biasa, di saat itulah puncak derita Siti Hajar mendapat sambutan kasih sayang Allah Swt. ; memancarlah air Zamzam yang penuh mukjizat itu. Demikianlah hebatnya mukjizat dari doa seorang Ibu yang penuh cinta kepada anaknya, setia kepada suaminya, dan penuh takwa kepada Allah Swt. Hikmah dan berkat doanya itu bisa dinikmati secara abadi oleh segenap insan di muka bumi ini. Tak kering-keringnya air Zamzam itu walaupun dimanfaatkan oleh jutaan insan, padahal sumber air itu terletak di tengah padang pasir yang gersang.

Di kala Ismail AS yang masih remaja harus mengorbankan jiwa raganya atas permintaan ayahnya itu, Ismail pun tidak membantahnya, bahkan Ismail berkata,
يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ
Wahai bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang yang sabar. (37: 102)

Begitulah Ismail  meskipun masih remaja, tidak kalah oleh orang tua, baik dalam ketakwaannya, kebajikannya, dan keluhuran akhlaknya. Silakan bandingkan dengan kekhidmatan anak-anak kita sekarang terhadap orang tuanya.

Bagaimana cara  Ibrahim AS menyiapkan kader semulia Ismail AS? Al-Qur’an memberi penjelasan berikut:
Tujuan pendidikan yang dikehendaki Ibrahim AS adalah mendapatkan generasi muda yang shaleh. Hal itu tercermin dari doanya:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
,Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang yang saleh. (Shafat, 37: 100)
Selanjutnya Ibrahim sangat konsisten dengan tujuan itu sehingga selalu bertanya Maa ta’buduuna min ba’dii bukan Maa ta’kuluuna min ba’dii. "Anakku, apa yang akan kau sembah sepeninggalku?" Dia tidak bertanya, "Apa yang akan kamu makan sepeninggalku?" Ibrahim tidak terlalu khawatir dengan nasib harta anaknya, tapi dia amat khawatir anaknya nanti menyembah tuhan selain Allah .Lebih tegas lagi Ibrahim mewanti-wanti kepada anaknya dengan ucapan,
يَا بَنِيَّ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى لَكُمُ الدِّينَ فَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Hai anak-anakku sungguh Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam memeluk Islam (2:132).

Muatan pendidikan Ibrahim meliputi: Tilawah (bacaan Kitab Suci) untuk pencerahan intelektual (pikiran) Tazkiyah (nasihat) untuk kekuatan spiritual, Ta’lim (pembelajaran) untuk pengembangan ilmu pengetahuan, dan Hikmah (kebijakan) sebagai panduan operasional dalam beramal perbuatan.  Muatan pendidikan itu tercantum dalam Al-Quran:
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ

29. YANG MERUSAK AMAL KEBAJIKAN




اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ نَعْبُدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِاَنْفُسِنَاوَمِنْ سَيِّئاَتِ أَعْماَلِنَامَنْ يَهْدِاللهُ فَلاَمُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَهَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُاَنْ لاَ اِلَهَ اِلاَّاللهُ وَاَشْهَدُ اَنَّّ مُحَمَّدًاعَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَلَّلهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ وَعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَا بِهِ.اَمَّابَعْدُ. فَيَااَيُّّهَا المْسُْلِمُوْنَ اِتَّقُوْااللهَ. اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَاَنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ اَلرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ

Kita baru saja tuntas dari Ramadan. Mudah-mudahan dengan amal ibadah kita di bulan suci itu suci jugalah diri kita sehingga di kala kita kembali kepada-Nya diterima dengan sepenuh cinta-Nya, seiring dengan firman-Nya:
اِنَّ اللهَ يُحِبُّ التَّوَّابِيْنَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِيْنَ
Sungguh Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan  menyucikan diri. (2: 222)

Terkait dengan urusan memelihara kesucian diri itu, baiklah kita simak  hadits berikut.

ستّتُ اَشْيَاءَ تُحْبِطُ الاَعْمَالَ: اَلاِشْتِغَالُ بِعُيُوْبِ الْخَلْقِ وَقَسْوَةُ الْقَلْبِ وَحُبُّ الدُّنْيَاوَقِلَّةُ الْحَيَاءِ وَطُوْلُ الاَمَلِ وَظَالِمٌ لاَيَنتَْهِىْ
Ada enam perkara yang merusak amal: sibuk dengan aib orang lain, bandel hati, terlalu cinta dunia, kurang rasa malu, jauh angan-angan, aniaya yang tak kunjung henti. (Ad-Dailami)

1. Sibuk dengan aib orang lain dapat menghabiskan waktu untuk menilai aib diri sendiri. Akibatnya orang lain menjadi baik, diri kita menjadi rusak (tidak ada kemajuan). Selain itu, dapat menimbulkan pertengkaran sebab tidak ada orang yang mau dibuka aibnya.

2. Hati membatu artinya tidak bergeming dari kesalahan.
 ×@÷ƒuqsù ÏpuÅ¡»s)ù=Ïj9 Nåkæ5qè=è% `ÏiB ̍ø.ÏŒ «!$# 4 y7Í´¯»s9'ré& Îû 9@»n=|Ê AûüÎ7B  
Maka celaka besarlah mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (Zumar, 39: 22)

3. Terlalu cinta dunia sehingga lupa kewajiban kepada Allah dan sesama manusia.

4. Kurang rasa malu. Itu adalah sifat hewan; bisa melakukan apa saja. Lihat sja perilaku hewan.

5. Banyak lamunan. Beda dengan cita-cita. Lamunan adalah keinginan yang tidak disesuaikan dengan kemampuan., sedangkan cita-cita adalah keinginan yang disesuaikan dengan kemampuan. Disebabkan lamunan, kelakuan jadi rusak karena mengikuti khayalan yang berarti melarikan diri dari dunia nyata. Seharusnya syukurilah segala yang telah diusahakan, apa pun hasilnya.

6. Zhalim berkepanjangan. Lawannya adalah adil = seimbang. Tentu saja kezhaliman yang tiada henti akan menimbulkan kerusakan yang terus-menerus. Sebaliknya, keadilan akan membuat segalanya seimbang.

KHUTBAH II
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ فَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى عَنْهُ وَحَذَّرَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ، اَلْوَاحِدُ الْقَهَّاُر، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، سَيِّدُ اْلأَبْرَارِ. فَصَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدَاهُ إِلَى يَوْمِ الْبَعْثِ وَالنُّشُوْرِ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Kaum Muslimin tamu Allah, dalam khutbah ke-2 ini, kita simak lagi hadist-hadist berikut:

حَصِّنُوْا اَمْوَالَكُمْ بِالزَّكَاةِ وَدَوُواْمَرْضَاكُمْ بِالصَّدَقَةِ وَاَعِدُّوْا لِلْبَلاَءِ الدُّعَاءَ
Peliharalah hartamu dengan zakat, obatilah orang sakit dengan sedekah, dan siapkanlah doa untuk menghadapi cobaan. (Khathab)

اِنَّ اللهَ تَعَالَى اِذَااَنْزَلَ عَاهَةً مِنَ السَّمَاءِ عَلَى اَهْلِ الاَرْضِ صُرِّفَتْ عَنْ عَمَّارِالْمَسْجِدِ

Sesungguhnya Allah Swt. manakala menurunkan bahaya dari langit kepada penghuni bumi, bahaya itu dijauhkan dari orang yang memakmurkan masjid. Ibnu ‘Asakir dari Anas)


Makna hadits itu kurang lebih sbb. Kekayaan hanya akan menyejahterakan jika dibarengi dengan zakat. Kaya sendiri  akan membangkitkan kecemburuan sosial yang akhirnya bisa menimbulkan kerusuhan. Begitu pula penyakit yang tidak diobati akan merusak jasmani dan ruhani yang akhirnya untuk beramal pun tak berdaya. Adapun bencana (alam) yang tidak terduga tentu saja hanya Allah yang tahu. Sebab itu, berdoa adalah usaha yang paling tepat untuk menghindari bencana seperti itu. Beribadah (berdoa) di rumah Allah (masjid) sama dengan bertamu kepada Allah dan pasti Allah akan menjamu tamu-Nya dengan macam-macam rahmat-Nya.

Baiklah kita akhiri khutbah ini dengan doa kita bersama.

Bismillahirrahmanirrahim

Puji dan puja kami persembahkan ke hadirat-Mu ya Allah, atas segala rahmat dan nikmat yang senantiasa Kau-curahkan kepada kami. Kesejahteraan dan keselamatan semoga tetap tercurah kepada kekasih-Mu Rasulullah Saw. kepada keluarganya, para sahabatnya, dan para pengikutnya
Wahai Yang Maha Pengasih dan Maha Pemurah, anugerahkanlah kepada kami kekuatan untuk meninggalkan segala yang haram dan menaati segala yang Engkau perintahkan. Perlihatkanlah kepada kami yang salah itu tampak sebagai kesalahan, dan berilah kami kemampuan untuk menghindar dari kesalahan itu. Perlihatkanlah kepada kami yang benar itu tampak sebagai kebenaran, dan berilah kami kemampuan untuk menegakkan kebenaran itu.
اَللَهُمَّ اغْفِرْ للِْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلاَ حْيَاءِ مِنْهُمْ وَالاَمْوَاتِ. اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ. وَقَاضِيَ الْحَاجَاتِ. يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ. إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيتَآئِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر